Kang Samsul Dukung Sudaryono, MBG Masuk Kurikulum Pendidikan Sekolah
JAKARTA – Gagasan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang mendorong pendidikan gizi menjadi bagian dari kurikulum sekolah mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Gagasan tersebut dinilai membuka perspektif baru dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan makanan peserta didik, tetapi juga memberikan pendidikan mengenai pentingnya asupan gizi seimbang sejak usia dini.
Dukungan terhadap gagasan tersebut disampaikan KPA. Samsul Arifin, S.H., CH., CHt., Ketua Umum JAGAWARTA INDONESIA, yang akrab disapa Kang Samsul. Ia menilai pemikiran Sudaryono patut mendapatkan perhatian dan dikembangkan melalui pembahasan lintas sektor, khususnya antara Badan Gizi Nasional dan kementerian yang membidangi pendidikan.
Menurut Kang Samsul, MBG memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar program penyediaan makanan bagi anak-anak sekolah. Program tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran langsung mengenai kesehatan, nutrisi, pola konsumsi yang baik, hingga pembentukan karakter peserta didik.
Baginya, memberikan makanan bergizi kepada anak-anak merupakan langkah pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi memberikan pemahaman tentang manfaat makanan yang dikonsumsi merupakan investasi pengetahuan yang akan bermanfaat sepanjang kehidupan mereka.
Anak-anak perlu mengetahui bahwa setiap makanan mempunyai kandungan dan manfaat yang berbeda. Karbohidrat dibutuhkan sebagai sumber energi, protein berperan penting dalam pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh, sedangkan sayuran dan buah-buahan menyediakan serat, vitamin, serta mineral yang dibutuhkan tubuh.
Dengan pemahaman tersebut, peserta didik tidak hanya menjadi penerima manfaat MBG, tetapi juga memiliki pengetahuan untuk membangun kebiasaan makan sehat di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Kang Samsul memandang bahwa gagasan Sudaryono merupakan upaya memperluas fungsi pendidikan. Sekolah bukan hanya tempat anak-anak memperoleh ilmu pengetahuan akademik, melainkan juga tempat membentuk kebiasaan hidup sehat dan karakter yang baik.
Dalam pandangan Kang Samsul, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan program MBG adalah bagaimana menghubungkan kegiatan makan dengan proses pembelajaran.
Selama ini, kegiatan makan di sekolah mungkin lebih banyak dipahami sebagai waktu istirahat untuk memenuhi kebutuhan fisik peserta didik. Namun, melalui pendekatan pendidikan gizi, kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak.
Misalnya, ketika siswa mendapatkan menu nasi, telur, ikan, daging, sayuran, maupun buah-buahan, guru atau tenaga pendamping dapat memberikan penjelasan sederhana mengenai kandungan dan manfaat masing-masing bahan pangan. Anak-anak dapat diajak memahami mengapa tubuh membutuhkan protein hewani, mengapa sayuran harus dikonsumsi, serta bagaimana menjaga keseimbangan makanan.
Menurutnya, pembelajaran semacam ini akan lebih mudah diterima karena peserta didik langsung berhadapan dengan contoh makanan yang mereka konsumsi.
Ia juga menilai pendidikan gizi dapat disesuaikan dengan tingkat usia dan jenjang pendidikan. Untuk siswa sekolah dasar, materi dapat disampaikan melalui permainan, gambar, cerita, dan praktik sederhana. Sementara siswa sekolah menengah dapat diberikan pemahaman lebih luas mengenai kebutuhan nutrisi, pola konsumsi, keamanan pangan, serta hubungan antara makanan dan kesehatan.
Dengan demikian, program MBG dapat menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang mempertemukan pengetahuan dengan praktik kehidupan sehari-hari.
Ada hal menarik yang menjadi perhatian Kang Samsul dalam gagasan pengembangan MBG, yakni pentingnya memasukkan pendidikan tata krama ketika makan sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.
Menurutnya, pendidikan gizi jangan hanya berhenti pada pengetahuan mengenai karbohidrat, protein hewani, sayuran, buah-buahan, vitamin, dan mineral. Dalam praktik pelaksanaannya, kegiatan MBG juga dapat disisipkan pembelajaran mengenai etika makan, kesopanan, kedisiplinan, kebersihan, dan bagaimana menghargai makanan.
Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan, berdoa sesuai keyakinan masing-masing, duduk dengan tertib, tidak berebut makanan, menggunakan peralatan makan dengan baik, serta menjaga kebersihan setelah makan merupakan bagian dari pendidikan karakter yang dapat dibangun melalui kegiatan tersebut.
Kang Samsul juga menyoroti pentingnya menanamkan budaya tidak menyia-nyiakan makanan. Anak-anak perlu memahami bahwa makanan yang tersaji di hadapan mereka merupakan hasil dari proses panjang dan kerja keras banyak orang.
Ada petani yang menanam padi dan sayuran, peternak yang memelihara hewan, nelayan yang mencari ikan, pekerja yang mengolah bahan pangan, serta tenaga yang menyiapkan makanan hingga sampai kepada peserta didik.
Karena itu, menghargai makanan merupakan bagian dari pendidikan moral yang seharusnya dikenalkan sejak dini.
Ia berpandangan bahwa siswa perlu dibiasakan mengambil makanan sesuai kebutuhan, tidak membuang makanan secara sembarangan, dan menjaga kebersihan tempat makan. Tentu pembiasaan tersebut harus tetap memperhatikan kemampuan serta kebutuhan porsi masing-masing anak.
Dalam konteks ini, MBG bukan hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai kesederhanaan, tanggung jawab, rasa syukur, dan penghormatan terhadap hasil kerja orang lain.
Kang Samsul menilai bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus disampaikan melalui ceramah di dalam kelas. Banyak nilai kehidupan justru lebih mudah ditanamkan melalui pembiasaan dan praktik langsung dalam aktivitas sehari-hari.
Kang Samsul kemudian mengajak masyarakat melihat pendidikan gizi dari perspektif sistem pendidikan nasional.
Selama ini, pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan telah menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah. Bahkan, berbagai kegiatan olahraga dan rekreasi menjadi sarana untuk membangun kebugaran, kedisiplinan, kerja sama, dan kemampuan sosial peserta didik.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga memperhatikan kesehatan dan perkembangan fisik anak.
Oleh sebab itu, pendidikan gizi juga layak mendapatkan ruang yang memadai dalam proses pembelajaran.
Ia memandang olahraga dan pendidikan gizi merupakan dua hal yang saling melengkapi. Olahraga mengajarkan bagaimana menjaga tubuh agar tetap aktif dan bugar, sedangkan pendidikan gizi memberikan pemahaman mengenai bagaimana memenuhi kebutuhan tubuh melalui makanan yang sehat dan seimbang.
Keduanya memiliki hubungan erat dalam membangun pola hidup sehat.
Anak-anak yang terbiasa berolahraga harus memahami pentingnya asupan nutrisi. Begitu pula anak-anak yang memperoleh makanan bergizi perlu mengenal manfaat aktivitas fisik, istirahat yang cukup, dan kebiasaan menjaga kesehatan.
Atas dasar itulah, Kang Samsul menilai gagasan Sudaryono mengenai pendidikan gizi dalam kurikulum sekolah patut didukung dan ditindaklanjuti secara serius.
Namun, ia berpandangan bahwa implementasinya tidak harus selalu melalui pembentukan mata pelajaran baru. Materi pendidikan gizi dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah tersedia, seperti pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, maupun kegiatan pembiasaan di lingkungan sekolah.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan gizi dapat diberikan tanpa harus menambah beban akademik peserta didik secara berlebihan.
Lebih jauh, Kang Samsul menilai bahwa persoalan gizi tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang.
Pemahaman mengenai makanan sehat harus dibangun sejak usia dini karena kebiasaan makan yang terbentuk pada masa anak-anak dapat memengaruhi pola hidup ketika mereka tumbuh dewasa.
Pendidikan gizi juga perlu melibatkan keluarga. Apa yang dipelajari anak di sekolah idealnya dapat diterapkan di rumah sehingga pengetahuan mengenai makanan sehat tidak berhenti ketika kegiatan belajar selesai.
Dalam hal ini, orang tua memiliki peran penting untuk mendukung pembiasaan konsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan makanan, serta memberikan contoh pola hidup sehat kepada anak-anak.
Kang Samsul juga menilai bahwa pengembangan pendidikan gizi perlu memperhatikan potensi pangan lokal di setiap daerah. Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang sangat beragam, mulai dari ikan, telur, daging, kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, hingga berbagai bahan pangan khas daerah.
Pengenalan pangan lokal dapat menjadi bagian dari pembelajaran agar anak-anak tidak hanya memahami kandungan gizi, tetapi juga mengenal kekayaan sumber daya pangan Nusantara.
Dengan demikian, pendidikan gizi sekaligus dapat membangun kesadaran mengenai pentingnya pertanian, peternakan, perikanan, dan ketahanan pangan nasional.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pelaksanaan MBG tetap harus memperhatikan kualitas bahan pangan, standar keamanan makanan, kebersihan pengolahan, distribusi, serta kesesuaian porsi dengan kebutuhan peserta didik.
Menurutnya, pendidikan gizi harus berjalan beriringan dengan pengawasan kualitas penyelenggaraan program agar manfaat yang diharapkan benar-benar dapat dirasakan.
Kang Samsul: Gagasan Sudaryono Perlu Ditindaklanjuti
Pada akhirnya, Kang Samsul berharap gagasan Sudaryono mengenai pendidikan gizi yang terintegrasi dengan program MBG dapat menjadi bahan pembahasan dan perumusan kebijakan bersama antara Badan Gizi Nasional, Kementerian Pendidikan, serta pemangku kepentingan lainnya.
Ia menilai perlu ada konsep yang jelas mengenai materi pendidikan gizi, metode penyampaian, tenaga pendamping, dan mekanisme evaluasi agar pelaksanaannya tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial.
Atas nama JAGAWARTA INDONESIA, Kang Samsul menyampaikan dukungan terhadap upaya pengembangan gagasan tersebut sebagai bagian dari pendidikan kesehatan dan pembentukan karakter generasi muda Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan program MBG tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak makanan yang dibagikan kepada siswa. Perlu pula diperhatikan sejauh mana program tersebut mampu membangun kesadaran mengenai pentingnya makanan bergizi, kebiasaan hidup sehat, kedisiplinan, dan budaya menghargai makanan.
Ia berharap anak-anak Indonesia kelak menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memahami kebutuhan tubuhnya, mampu menjaga kesehatan, memiliki tata krama, dan menghargai setiap makanan yang tersedia.
Sebab, pendidikan sejatinya bukan hanya mengajarkan manusia untuk mengetahui sesuatu, melainkan juga membentuk kemampuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan.
Dari sepiring makanan bergizi, ada pelajaran tentang kesehatan. Dari kebiasaan makan bersama, ada pendidikan tentang kedisiplinan dan tata krama. Dan dari sikap menghargai makanan, ada nilai kemanusiaan yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Inilah makna yang lebih luas dari program MBG: bukan sekadar memberi makan anak-anak Indonesia, melainkan turut membangun generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berbudaya.[red]




