INDONESIA BUTUH SAMIN
Oleh: KPA. SINGONAGORO II, S.H., CH., CHt.
Pemimpin Redaksi Media Siber Senopatipost.com
Menghidupkan Kembali Pitutur Luhur untuk Menuntun Laku Urip dan Budi Pekerti Bangsa
Baca Juga: STIEKIA Bawa 10 Mahasiswa Internasional Temui Bupati Bojonegoro
Indonesia sesungguhnya adalah bangsa yang memiliki kekayaan luar biasa dalam hal kebudayaan, tradisi dan ajaran kehidupan. Jauh sebelum berbagai konsep tentang pendidikan karakter, etika sosial dan pembangunan manusia digaungkan dalam istilah-istilah modern, masyarakat Nusantara telah memiliki berbagai pitutur yang mengajarkan manusia bagaimana menjalani kehidupan dengan baik. Salah satunya adalah ajaran luhur yang hidup dalam tradisi Sedulur Sikep Samin. Samin tidak semestinya hanya dipandang sebagai sebuah identitas komunitas atau bagian dari catatan sejarah masyarakat Jawa, tetapi juga perlu ditempatkan sebagai salah satu kekayaan pemikiran dan kebijaksanaan lokal bangsa yang mengajarkan manusia tentang kejujuran, kesabaran, kesungguhan, kesederhanaan, persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.
Di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks, ketika manusia dihadapkan pada berbagai godaan materialisme, persaingan, pencitraan, kepentingan pribadi dan derasnya arus informasi, ajaran Samin justru menemukan relevansinya kembali. Pitutur luhur yang sederhana dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia tidak semata-mata diukur dari apa yang dimiliki, jabatan yang diduduki, popularitas yang diperoleh atau seberapa besar pengaruh seseorang di tengah masyarakat, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjalani kehidupan, bagaimana ia memperlakukan sesamanya dan bagaimana ia menjaga kejujuran dalam dirinya. Karena itu, Indonesia butuh Samin, bukan dalam pengertian bahwa seluruh masyarakat harus menjadi Sedulur Sikep, melainkan Indonesia membutuhkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam ajaran tersebut sebagai bagian dari kekayaan moral bangsa.

Pada sebuah pitutur luhur yang menjadi bahan renungan tulisan ini tertulis kalimat “Laku jujur, sabar, trokal lan nrimo.” Kalimat tersebut sebenarnya sangat sederhana, tetapi apabila benar-benar dijadikan pedoman hidup, memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk karakter manusia. Laku jujur berarti menjadikan kejujuran sebagai jalan hidup, sabar berarti mampu mengendalikan diri dalam menghadapi keadaan, trokal mengandung semangat kesungguhan dan ketekunan dalam menjalani kehidupan, sementara nrimo mengajarkan manusia untuk menerima kenyataan dengan lapang dada setelah menjalankan ikhtiar dengan sebaik-baiknya. Inilah nilai-nilai yang sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam kehidupan bangsa hari ini, ketika manusia sering kali tergoda mengambil jalan pintas untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Kejujuran bukan hanya persoalan berkata benar ketika ditanya, tetapi juga keberanian untuk menjalani kehidupan tanpa mengkhianati kebenaran. Sabar bukan berarti menyerah terhadap keadaan, melainkan kemampuan untuk tidak kehilangan kendali ketika menghadapi persoalan. Trokal bukan sekadar bekerja keras untuk mengejar keuntungan, tetapi kesungguhan dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawab. Sementara nrimo bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan menerima hasil kehidupan dengan hati yang lapang setelah melakukan ikhtiar. Jika empat nilai tersebut benar-benar ditanamkan sejak keluarga, sekolah, pesantren, lingkungan masyarakat hingga ruang publik, maka kita sedang membangun manusia yang memiliki dasar moral kuat.
Pitutur berikutnya berbunyi “Ojo dengki, srei, dahwen, kemeren, pekpinek barange liyan.” Jangan dengki, jangan iri, jangan gemar mencari kesalahan, jangan mudah menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Kita hidup di zaman ketika kehidupan orang lain dapat disaksikan setiap hari melalui media sosial. Orang memamerkan keberhasilan, kekayaan, perjalanan, jabatan dan pencapaiannya. Tanpa kedewasaan batin, semua itu dapat memunculkan rasa iri dan keinginan untuk membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Ajaran Samin justru mengajak manusia untuk kembali melihat dirinya sendiri, memperbaiki perilakunya sendiri dan tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk menumbuhkan kebencian.
Manusia yang memiliki budi luhur seharusnya mampu melihat keberhasilan orang lain sebagai sesuatu yang dapat menjadi inspirasi, bukan sebagai ancaman. Jika seseorang memperoleh keberhasilan, kita tidak perlu dengki. Jika seseorang mendapatkan penghargaan, kita tidak perlu mencari-cari kesalahannya. Jika orang lain memiliki sesuatu yang belum kita miliki, kita tidak harus mengambilnya dengan cara yang tidak benar. Setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing. Yang terpenting bukan bagaimana kita mengalahkan orang lain, tetapi bagaimana kita menjadi manusia yang lebih baik dari diri kita sendiri. Apik marang liyan, berbuat baik kepada sesama, seharusnya menjadi bagian dari laku urip setiap manusia.
Kemudian terdapat pitutur “Ojo mbedho mbedakne sapodo padaning urip, kabeh iku sedulur kabeh.” Jangan membeda-bedakan sesama kehidupan, semuanya adalah saudara. Kalimat ini memiliki relevansi yang sangat besar bagi Indonesia sebagai bangsa yang dibangun dari keberagaman. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, adat, profesi maupun latar belakang sosial tidak boleh membuat manusia kehilangan rasa persaudaraan. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap dapat saling menghormati. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi tidak harus saling membenci. Kita boleh berbeda latar belakang, tetapi tetap harus mampu melihat bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.
Di sinilah ajaran Samin dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran tentang bagaimana membangun kehidupan sosial yang lebih beradab. “Kabeh iku sedulur kabeh” mengandung semangat bahwa manusia tidak boleh dengan mudah merendahkan manusia lain. Ketika kesadaran persaudaraan tumbuh, seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak karena ia memahami bahwa apa yang dilakukan kepada orang lain pada akhirnya juga memiliki dampak terhadap kehidupan bersama. Budi luhur bukan hanya tentang bagaimana seseorang bersikap ketika berhadapan dengan orang yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan orang kecil, orang miskin, orang yang berbeda dan orang yang tidak memiliki kekuasaan.
Ajaran lain yang sangat penting adalah “Ojo waton omong, omong sing nganggo waton.” Jangan asal berbicara, berbicaralah dengan dasar dan pertimbangan. Pitutur ini semakin relevan di era media sosial, ketika setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat kepada publik. Satu kalimat dapat menyebar dalam hitungan detik, satu informasi dapat membentuk persepsi masyarakat, dan satu tuduhan dapat memberikan dampak besar terhadap kehidupan seseorang. Karena itu, kemampuan menjaga ucapan merupakan bagian dari budi luhur. Orang yang memiliki pengetahuan belum tentu memiliki kebijaksanaan, tetapi orang yang mampu mempertimbangkan perkataan sebelum mengucapkannya sedang belajar menjalankan nilai luhur.
Berbicara dengan dasar berarti membedakan antara fakta dan dugaan, antara kebenaran dan kabar yang belum teruji, antara kritik dan penghinaan. Masyarakat perlu dibiasakan untuk tidak asal bicara, tidak asal menuduh dan tidak mudah menyebarkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Dalam konteks kehidupan media, prinsip ini juga memiliki arti penting. Kebebasan pers, kebebasan berekspresi dan kebebasan menyampaikan pendapat harus berjalan bersama tanggung jawab moral. Sebab tujuan komunikasi seharusnya bukan sekadar memenangkan perdebatan, tetapi menghadirkan kebenaran dan kemaslahatan.
Kemudian ada pitutur “Biso roso rumongso.” Mampu merasakan keadaan, memiliki kepekaan terhadap kehidupan orang lain. Nilai ini barangkali semakin penting di tengah masyarakat yang semakin individualistis. Teknologi membuat manusia semakin terhubung secara digital, tetapi belum tentu semakin dekat secara kemanusiaan. Kita dapat melihat kehidupan orang di berbagai penjuru dunia melalui layar, tetapi terkadang tidak mengetahui bahwa orang yang berada di sekitar kita sedang mengalami kesulitan. Karena itu, roso rumongso mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hanya memiliki pikiran, tetapi juga harus memiliki rasa.
Manusia yang memiliki rasa akan berpikir sebelum menyakiti. Ia akan mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Ia tidak mudah merendahkan orang lain karena memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang mungkin tidak terlihat. Ia akan membantu ketika melihat orang membutuhkan pertolongan. Ia akan menghormati orang lain meskipun tidak memiliki kepentingan terhadap orang tersebut. Di sinilah budi luhur menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari. Budi luhur bukan sesuatu yang hanya dibicarakan dalam forum budaya, tetapi sesuatu yang harus tampak dalam cara manusia berbicara, bekerja, bertetangga, memimpin, mendidik, bermedia dan memperlakukan sesama.
Karena itu, ajaran Samin patut terus disebarluaskan sebagai bagian dari kekayaan ajaran luhur bangsa ini. Bukan untuk mempertentangkan Samin dengan kebudayaan lain, bukan pula untuk menjadikan Samin sebagai satu-satunya sumber kebenaran moral, tetapi untuk memperkenalkan kepada generasi muda bahwa bangsa Indonesia memiliki warisan nilai yang sangat kaya untuk membentuk manusia berkarakter. Anak-anak bangsa perlu mengetahui bahwa menjadi manusia yang baik tidak cukup hanya dengan memiliki ilmu pengetahuan. Mereka harus belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang patut dilakukan dan mana yang harus dihindari, mana yang membawa kebaikan bagi sesama dan mana yang dapat merugikan kehidupan orang lain.
Ajaran tersebut kemudian harus diterjemahkan menjadi laku urip, menjadi perilaku sehari-hari. Sebab ajaran yang hanya berhenti pada tulisan tidak akan memberikan perubahan. Pitutur harus menjadi kebiasaan. Kejujuran harus menjadi kebiasaan. Kesabaran harus menjadi kebiasaan. Tidak dengki harus menjadi kebiasaan. Tidak mengambil hak orang lain harus menjadi kebiasaan. Tidak membeda-bedakan sesama harus menjadi kebiasaan. Tidak asal berbicara harus menjadi kebiasaan. Memiliki rasa terhadap penderitaan orang lain juga harus menjadi kebiasaan. Dengan demikian, nilai Samin tidak berhenti sebagai pengetahuan budaya, tetapi benar-benar hidup dalam perilaku manusia.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ajaran luhur bukanlah seberapa sering kita mengucapkannya, tetapi seberapa jauh ajaran tersebut membentuk perilaku. Manusia yang memahami pitutur “laku jujur, sabar, trokal lan nrimo” seharusnya semakin mampu mengendalikan dirinya. Manusia yang memahami “ojo dengki, srei, dahwen, kemeren” seharusnya semakin jauh dari iri dan kebencian. Manusia yang memahami “kabeh iku sedulur kabeh” seharusnya semakin menghormati sesama. Manusia yang memahami “ojo waton omong” seharusnya semakin bertanggung jawab dalam berbicara. Dan manusia yang memahami “biso roso rumongso” seharusnya semakin peka terhadap keadaan lingkungan dan sesamanya.
Maka Indonesia Butuh Samin bukan sekadar sebuah ungkapan, tetapi sebuah refleksi kebangsaan. Indonesia membutuhkan manusia yang tahu benar dan salah, manusia yang memiliki budi luhur, manusia yang mampu mengendalikan dirinya, manusia yang tidak mudah iri, manusia yang menghargai sesama dan manusia yang menjadikan kebaikan sebagai bagian dari kehidupannya. Apik marang liyan harus menjadi semangat yang terus ditanamkan, bahwa hidup bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan sesuatu untuk diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kehadiran kita dapat memberikan kebaikan bagi orang lain.
Sebab pada akhirnya, peradaban sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang panjang, teknologi yang canggih atau pertumbuhan ekonomi yang besar. Peradaban dibangun oleh manusia. Dan manusia yang kuat bukan hanya manusia yang cerdas, tetapi manusia yang memiliki budi luhur, tahu benar dan salah, mampu menjaga laku urip, serta terus menanamkan apik marang liyan. Jika nilai-nilai tersebut dapat terus diwariskan, diajarkan, disebarluaskan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka pitutur luhur Sedulur Sikep Samin tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari jawaban moral bagi Indonesia masa kini dan masa depan.
Indonesia boleh berubah, zaman boleh berganti dan teknologi boleh semakin maju. Namun manusia Indonesia jangan sampai kehilangan budi luhur. Karena itu, Indonesia membutuhkan Samin—bukan sekadar sebagai nama, bukan sekadar sebagai sejarah, tetapi sebagai nilai kehidupan: laku jujur, sabar, trokal, nrimo, tidak dengki, tidak membeda-bedakan, tidak asal berbicara, memiliki rasa dan senantiasa menanamkan kebaikan kepada sesama.






