COKRO SINGONEGARAN
Rp 250.000
Beli SekarangCOKRO SINGONEGARAN
Jalan Sangkan Paraning Dumadi, Wirid, Rasa, Sahadat, lan Makrifat Jawa
Dari mana manusia berasal, untuk apa ia dihidupkan, dan ke mana kehidupan akan kembali? Pertanyaan-pertanyaan mendasar inilah yang menjadi pintu masuk buku Cokro Singonegaran, sebuah perjalanan pemikiran dan perenungan spiritual yang menelusuri hubungan antara manusia, kehidupan, rasa, budi, ibadah, dan penghambaan kepada Allah melalui khazanah tasawuf Jawa.
Berangkat dari pembacaan dan penafsiran terhadap Serat Wirid Kagungan Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono, khususnya tradisi naskah yang dikaitkan dengan Susuhunan Pakubuwono X, buku ini berusaha membuka kembali lapisan makna yang tersembunyi di balik ungkapan-ungkapan Jawa-Islam tentang Sangkan Paraning Dumadi. Naskah yang memuat beragam istilah mengenai asal-usul manusia, sifat-sifat Allah, martabat keberadaan, perjalanan nyawa dan roh, laku batin, sahadat, hingga sembahyang, dibaca bukan semata-mata sebagai peninggalan sastra dan kebudayaan, melainkan sebagai ruang perenungan untuk memahami perjalanan manusia dari asal menuju tujuan akhirnya.
Melalui delapan bab pembahasan, pembaca diajak menapaki jalan Ngelmi Kasampurnan, mengenali empat pintu indrawi manusia, menelusuri Wiwitaning Manungsa atau asal-usul keberadaan manusia, memahami Sipat Rongpuluh, serta mendalami laku seorang wong ngarip dalam menjernihkan rasa, menata kehendak, dan mengendalikan keakuan. Perjalanan kemudian bergerak menuju pertanyaan tentang kehidupan dan kematian, pemaknaan sembahyang lima waktu, pembacaan tubuh sebagai jagad cilik, hingga akhirnya sampai pada wasiat wirid dan adab bagi generasi penerus.
Dalam perspektif Cokro Singonegaran, pengetahuan spiritual tidak berhenti pada kemampuan menghafal rapal, menguasai istilah, atau membicarakan pengalaman mistik. Pengetahuan harus menjelma menjadi laku, laku harus membentuk akhlak, dan akhlak harus menghadirkan manfaat bagi kehidupan. Manusia yang memahami makna wirid semestinya semakin berhati-hati dalam berbicara, semakin jernih dalam berpikir, semakin rendah hati ketika memperoleh kedudukan, semakin bijaksana ketika menghadapi kehilangan, serta semakin sadar bahwa seluruh kehidupan merupakan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan.
Buku ini juga memberikan perhatian khusus pada batas antara bahasa simbolik tasawuf Jawa dan keteguhan tauhid Islam. Ungkapan mengenai Dat, Sipat, Asma, Apengal, Tanajul, Martabat Pitu, dan berbagai perlambang tubuh ditelaah dengan kehati-hatian agar kekayaan bahasa mistik tidak disalahpahami sebagai penyamaan antara manusia dan Tuhan. Allah tetap Allah, Rasulullah tetap utusan Allah, dan manusia tetap seorang kawula yang bergantung kepada-Nya. Demikian pula, makrifat tidak dimaknai sebagai jalan untuk meninggalkan syariat, melainkan sebagai pendalaman kesadaran yang seharusnya memperkuat ibadah, memperhalus akhlak, dan meneguhkan penghambaan.
Di sinilah makna Cokro menemukan tempatnya sebagai lambang roda kehidupan yang terus berputar. Manusia dapat berada di atas atau di bawah, mengalami kelapangan atau kesempitan, memperoleh pujian atau menerima hinaan. Namun, di tengah seluruh perubahan itu, ia perlu menemukan pusat kesadaran agar tidak diperbudak oleh keadaan duniawi. Sementara Singonegaran menjadi identitas pemikiran yang dikembangkan KPA Singonagoro dalam membaca warisan spiritual, menghubungkan nilai-nilai luhur masa lampau dengan tantangan kehidupan masa kini, serta mengajak manusia kembali mengenali dirinya sebagai makhluk yang memiliki asal, perjalanan, dan tujuan.
Cokro Singonegaran bukan sekadar ajakan untuk menengok masa lalu, melainkan undangan untuk menghidupkan kembali kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab warisan spiritual yang sejati tidak hanya tersimpan di dalam naskah, tetapi hidup dalam kesadaran orang yang membacanya, tampak dalam perilaku orang yang memahaminya, dan diteruskan melalui akhlak orang yang mengamalkannya.
Pada akhirnya, perjalanan Sangkan Paraning Dumadi membawa manusia kembali kepada satu kesadaran mendasar: mengenali asal kehidupan, menjalani kehidupan dengan amanah, dan mempersiapkan kepulangan kepada Allah dengan penuh tanggung jawab.
Eling marang sangkan, waspada marang paran, lan tansah lumaku minangka kawula.
Penulis: KPA. SAMSUL A, SINGONAGORO II, S.H., CH., CHt
ISBN: xxxx
Halaman: 316
Ukuran: 21 x 24 cm
Tahun Terbit: 2026



